Terkadang aku malu untuk menangisinya, tetapi aku sakit hati jika tersenyum. Ingin menyesali tapi aku tahu takkan berarti.
Wahai sang pengagum cinta...
Yang hanya berani untuk mengagumi tanpa diketahui oleh sang pujaan hati. Bukan berarti kalian adalah pengecut, tetapi justru ada sisi menarik di balik rahasia sang pengagum cinta.
Wahai sang pengagum cinta...
Yang sangat mengerti makna cinta sesungguhnya dan selalu bahagia saat teringat dengan sang pujaan hati. Cinta yang benar-benar tulus, bukan hanya hasrat tuk memiliki, tapi bukannya menolak jika bisa memiliki.
Wahai sang pengagum cinta...
Yang kecewa saat kehilangan jejak cinta dan saat harapan tersapu bersama sampah cinta. Tanpa sisa.
Wahai sang pengagum cinta...
Yang senasib dengan seorang manusia yang sangat mencintai cinta dari hati, bukan karena paksaan. Yang menganggap seluruh rasa terpenjara dalam bui cinta di balik jeruji asmara.
Wahai sang pengagum cinta..
Yang merasa tak pantas untuk dicintai, yang merasa paling hina di antara semua yang hina. Sang pengagum cinta selalu bangga-bukan angkuh semata-dengan jerih payah untuk berusaha menjadi dirinya sendiri, tidak sama sekali berusaha menjadi seseorang.
Wahai sang pengagum cinta...
Yang wajahnya memerah saat membayangkan sang pujaan hati, yang tak merasa jengah untuk memberi. Karena bagi sang pengagum cinta, cinta tidak mengharapkan menerima sesuatu. Cinta adalah memberi cinta dari cinta untuk cinta. Selamanya...
Sepenggal surat tanpa arti ini lancang ditulis. Walaupun aku sadar bahwa aku tak pernah pantas untuk dikagumi, atau sekadar mengagumi cinta.
Terima kasih Tuhan...
Karena telah memberi cinta untuk sang pengagum cinta yang mendambakan cinta dari sang pujaan hati.
With love...
Trias nurmalitasari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar